Showing posts with label seleksi camat. Show all posts
Showing posts with label seleksi camat. Show all posts

Friday, April 5, 2013

31 Lurah dan 6 Camat Bersaing dalam Lelang Jabatan

[caption id="" align="alignleft" width="358"]ilustrasi ilustrasi[/caption]

Persaingan untuk menduduki jabatan di lingkungan Pemprov DKI kini semakin kompetitif. Di Jakarta Utara saja terdapat 31 lurah dan 6 camat yang diketahui akan mengikuti proses lelang jabatan tersebut. Jumlah ini kemungkinan akan bertambah, karena pendaftaran lelang secara resmi baru dibuka pada 8 April mendatang.


Nantinya mereka akan mengisi sejumlah jabatan yang sedang kosong, termasuk 3 jabatan lurah yang sedang lowong, yaitu Lurah Pejagalan, Lurah Rorotan, dan Lurah Tanjungpriok yang sampai saat ini masih dijabat oleh pelaksana tugas.


Rencananya pendaftaran lelang jabatan lurah dan camat itu akan ditutup pada 22 April mendatang. Namun, Walikota Jakarta Utara, Bambang Sugiyono, berharap para camat dan lurah di jajarannya agar tidak khawatir atas keputusan lelang tersebut.


"Jangan ada camat dan lurah yang justru kasak-kusuk, seperti berkelompok atau berdemo dengan adanya lelang ini. Kalau ada yang berkelompok untuk melakukan demo, lebih baik mengundurkan diri saja. Karena itu bukan bagian dari pegawai Pemprov DKI Jakarta," tegas Bambang, pada acara Penjelasan Teknis Seleksi Terbuka Camat dan Lurah di Lingkungan Pemkot Administrasi Jakarta Utara, Jumat (5/4).


Menurutnya, jika sejak dahulu para camat dan lurah sudah menerapkan sistem kerja sesuai yang ditetapkan, maka tidak perlu kaget dengan lelang jabatan ini. "Lurah dan camat juga jangan komplain dengan adanya seleksi terbuka ini. Sebab, seleksi ini merupakan program Pemprov DKI Jakarta yang mewajibkan camat dan lurah sebelumnya harus mengikuti pendaftaran, karena bila tidak mengikuti akan dianggap mengundurkan diri," ucapnya.


Sementara itu, Kepala Bidang Pengendalian Kepegawaian Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta, Slamet menuturkan, seluruh camat dan lurah yang kini masih menjabat atau disebut camat dan lurah definitif, diharuskan mendaftar dan mengikuti proses lelang lurah dan camat terbuka yang akan dimulai pada 8 April nanti. Jika para lurah dan camat definitif itu tidak mendaftar, maka akan dinyatakan mundur dari jabatannya yang sekarang. "Mereka akan menjalani beberapa langkah ujian, seperti tes administrasi, tes kompetensi, tes manajerial, tes kesehatan, dan verifikasi dokumen," tutur Slamet.


Namun, ia meminta peserta seleksi untuk hati-hati dan waspada dengan aksi penipuan dari sejumlah orang yang mengaku bisa memuluskan upaya untuk mendapatkan jabatan tersebut. "Kemarin kami mendapatkan laporan dari salah satu kelurahan di Jakarta Barat, bahwa ada yang menerima SMS dari seseorang yang mengaku bisa membantu untuk memuluskan lelang jabatan. SMS ini dikirim dari sebuah ponsel dengan nomor terakhir 555. Saya harap agar berhati-hati atas munculnya SMS tak bertanggung jawab itu. Abaikan saja," tandasnya.

Seleksi Terbuka, Banyak Lurah dan Camat Gaptek

[caption id="" align="alignleft" width="358"]Laptop Laptop[/caption]

Rencana Pemprov DKI Jakarta yang akan mengadakan seleksi terbuka untuk jabatan lurah dan camat mendapat beranggam tanggapan dari para calon pesertanya. Banyak yang mengaku siap, namun tak sedikit juga yang justru menjadi risau karena takut gagal dalam proses seleksi terbuka. Terlebih, banyak pejabat seperti lurah dan camat yang hingga kini masih belum menguasai penggunaan komputer dan internet alias gaptek.


Hal ini mengemuka saat sosialisasi seleksi terbuka jabatan lurah dan camat yang berlangsung di Kantor Walikota Jakarta Selatan. Pada kesempatan itu, banyak peserta sosialisasi yang seperti keberatan dengan tata cara proses seleksi terbuka terutama mengenai pendaftaran yang dilakukan secara online. "Mesin ATM saja memberi kesempatan hingga tiga kali kalau salah memasukan pin. Masa ini untuk seleksi terbuka kalau salah masukin data langsung gagal," ujar Edi Suherman, Camat Tebet, saat sosialisasi seleksi terbuka jabatan lurah dan camat di Kantor Walikota Jakarta Selatan, Jumat (5/4).


Hal yang sama juga dikatakan Lurah Gandariautara, Lukmansyah. Menurutnya, saat ini masih banyak pejabat yang kurang mengerti penggunaan komputer. Sehingga untuk melakukan pendaftaran maupun tes secara online yang diterapkan dalam seleksi terbuka tampaknya akan banyak menyulitkan pesertanya. "Saya yakin banyak teman-teman yang juga tidak mengerti penggunaan komputer online. Jadi bagusnya ada yang mendampingi," harapnya.


Sebelumnya Kepala Bidang Pengembangan Karir Badan Kepegawaian Daerah (BKD) DKI Jakarta, Chaidir mengatakan, yang paling utama diperhatikan dalam proses ini adalah pengisian data administrasi. Sebab, jika ada kesalahan pengisian, maka bisa langsung dinyatakan gagal. "Harus lebih teliti memasukan data di seleksi administrasi online. Karena kalau salah input data akan gagal, jangan sampai ceroboh. Setelah lolos administrasi, baru masuk uji kompetensi," katanya.


Dikatakan Chaidir, dalam uji kompetensi tersebut, para peserta akan mengikuti serangkaian tes. Tes-tes yang ada berhadapan langsung dengan komputer. "Ini pilihan ganda mengerjakannya di komputer. Nanti lokasi tes ada di Mabes Polri, lab komputer sekolah di DKI yang ditunjuk, atau di gedung Telkom. Ada sekitar 100 soal yang harus dikerjakan dalam 60 menit," katanya.


Meskipun sistem seleksi ini yang pertama, namun Chaidir mengingatkan para peserta untuk tetap tenang dan fokus. "Jangan terlalu galau, kalau ikut lalu tidak lolos. Karena akan ada pertimbangan lain, nanti akan dicocokan ke posisi yang eselon dan golongannya sama," tandasnya.