Showing posts with label Megawati Soekarnoputri. Show all posts
Showing posts with label Megawati Soekarnoputri. Show all posts

Saturday, June 1, 2013

Jokowi: Saya Tak Pikirkan Konvensi Demokrat

Jokowi: Saya Tak Pikirkan Konvensi Demokrat

Jakarta--Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengaku tak memikirkan mengenai konvensi Partai Demokrat yang dikabarkan hendak mengundang dirinya untuk menjadi calon presiden. Ia mengatakan, Demokrat pasti mengenali bahwa ia adalah kader dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.

"Pengurus Demokrat mestinya tahu itu," kata Jokowi di Plaza Indonesia Sabtu 1 Juni 2013. Ia juga menyatakan belum menerima undangan konvensi calon presiden dari Demokrat. "Tapi wajar saja kalau tak diundang, saya kan kader PDIP", kata dia.

Hari ini jajaran pengurus dan kader serta ribuan simpatisan PDIP memperingati hari lahir Pancasila di Tugu Proklamasi Jakarta. Usai menghadiri acara itu, Jokowi bersama Megawati serta sejumlah tokoh partai menuju restoran di Plaza Indonesia.

Jokowi menegaskan, pada acara makan siang itu mereka tidak membicarakan apapun menyangkut pemilu presiden 2014. "Ndak, ndak ada omongan soal itu," katanya. Ia mengaku menyerahkan persoalan pencapresan dari partainya kepada Ketua Umum. "Tanya saja sama Ketua Umum kalau soal pencapresan," ujar dia.

Sementara itu, dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri belum mau memberi keterangan mengenai siapa capres dari partainya.

Sejumlah survei politik menempatkan Jokowi sebagai calon presiden terpopuler 2014. Popularitas yang tinggi itu membuat mantan Walikota Solo ini diincar partai besar untuk berlaga pada pemilu nanti. (tempo.co)

Friday, May 31, 2013

Dampingi Mega, Jokowi Tampil dengan Atribut Satgas

Jokowi dampingi megawati

Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo hadir dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, yang digelar PDI Perjuangan di Tugu Proklamasi, Jakarta, Sabtu (1/6/2013). Dalam kesempatan ini, Joko Widodo mengenakan atribut Satgas Cakra Buana lengkap dengan baret merahnya.

Pria yang akrab disapa Jokowi ini tiba di lokasi sekitar pukul 09.45 bersamaan dengan datangnya Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Jokowi tampak mendampingi Mega dalam satu barisan dengan politisi Effendi Simbolon.

Penampilan Jokowi dengan atribut pakaian dinas lapangan (PDL) khas Satgas Cakra Buana terbilang langka. Karena dalam kesempatan, dirinya selalu muncul dengan pakaian "kebesarannya", baju putih, celana hitam, dan sepatu kets. Satgas Cakra Buana merupakan organisasi sayap dari PDI Perjuangan.

Secara bersamaan, dalam peringatan Hari Lahir Pancasila juga akan digelar apel siaga sekaligus pengukuhan Satgas tersebut secara langsung oleh Megawati.

Peringatan Hari Lahir Pancasila yang diselenggarakan oleh PDI Perjuangan ini diberi tajuk "Selamatkan Bangsa dengan Api Perjuangan Bung Karno".

Didampingi Jokowi, Megawati tak kuasa menahan tangis Pidato lahirnya Pancasila

Megawati dan jokowi

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri memimpin acara peringatan Hari Kelahiran Pancasila yang digelar di Tugu Proklamasi, Jakarta, Sabtu (1/6/2013). Dalam acara ini, Megawati sempat berlinang air mata saat menyampaikan pidato tentang lahirnya Pancasila.

"Ingatlah wejangan Bung Karno dalam pidato Lahirnya Pancasila, 'De Mensch', manusia harus memperjuangkan Pancasila supaya menjadi kenyataan," kata Megawati lantang.

"Beliau dengan lantang berujar, 'Jikalau bangsa Indonesia ingin supaya Pancasila yang saya usulkan itu menjadi satu realiteit, yakni jikalau kita ingin hidup menjadi satu bangsa, satu nationaliteit yang merdeka, ingin hidup sebagai anggota dunia yang merdeka, yang penuh dengan perikemanusiaan, ingin hidup di atas dasar permusyawaratan, ingin hidup sempurna dengan sociale rechtvaardigheid, ingin hidup dengan sejahtera dan aman, janganlah lupa akan syarat untuk menyelenggarakannya, ialah perjuangan, perjuangan, dan sekali lagi perjuangan...," lanjut Megawati sambil menyeka air matanya.

Dari sejak awal berpidato, suara putri Presiden Soekarno ini sudah terdengar lirih. Namun, ia tampak masih sanggup menahan tangisnya. Saat di ujung pidato, Megawati yang didampingi Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo tak lagi kuasa menahan tangis. Pidatonya sempat terhenti hitungan detik, dan sesekali dirinya kembali menyeka air matanya.

Menyaksikan pemimpinnya terisak, ratusan Satgas Cakra Buana (Organisasi sayap PDI Perjuangan) sontak bertepuk tangan dan meneriakkan kata "Merdeka.... Merdeka," sampai akhirnya Mega menyelesaikan pidato yang kembali disambut dengan tepuk riuh ratusan kader dan simpatisan PDI Perjuangan yang hadir dalam acara tersebut.

Selain untuk memperingati Hari Lahir Pancasila yang ke-68, berkumpulnya ratusan kader dan simpatisan PDI Perjuangan juga dimaksudkan untuk mengonsolidasi kekuatan Satuan Tugas (Satgas) partai melalui apel siaga sebagai persiapan memasuki tahun-tahun politik ke depan. Sejumlah tokoh nasional tampak hadir, di antaranya mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Tuesday, May 28, 2013

Sinyal positif dari Puan, PDIP Pertimbangkan Usung Jokowi Jadi Capres

[caption id="" align="alignleft" width="239"] Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dan Joko Widodo. Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati dan Joko Widodo.[/caption]

Kabar pencalonan Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo, sebagai presiden 2014 semakin kuat. Sejumlah survei dari berbagai lembaga pun menempatkan nama mantan Wali Kota Solo itu pada urutan puncak bersanding dengan tokoh-tokoh besar lainnya.

Meski begitu, Ketua DPP PDIP Puan Maharani belum bisa memastikan kemungkinan pencapresan Jokowi itu.


"Ini dinamika dari internal dan eksternal mengenai pencalonan Jokowi sebagai calon presiden 2014. Sudah saatnya Pilpres bagi yang muda," kata Puan di gedung DPR RI, Jakarta, Selasa 28 Mei 2013.


Menurut Puan, keinginannya ini sama dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.


"Bu Mega berkeinginan adanya kaderisasi dan regenerasi di PDIP. Kader muda mempunyai mobilitas lebih tinggi," tuturnya.


Puan mengatakan, partai berlambang banteng moncong putih ini tengah melakukan pendataan kader internal dan tokoh nasional. Mereka yang terpilih nantinya akan dibahas dalam musyawarah nasional sebelum ditetapkan siapa capres yang akan diusung pada 2014 mendatang.


Dia pun meminta para kader yang memiliki jabatan untuk bekerja dengan baik. Selain itu, para pengurus PDIP di seluruh Indonesia juga diminta mendekatkan diri dengan basis PDIP di daerahnya masing-masing.


"Kita ini kesatuan. Kita tidak akan menang bila tidak solid. Selain itu solidaritas antar pengurus dan kader harus diperkuat untuk 2014," ujarnya.


Untuk Jokowi ia memberikan pesan khusus. "Apapun yang terjadi Jokowi harus bisa fokus pada tugasnya sekarang. Tunjukkan kredibilitas pada penugasan hari ini. Kita yang berandai-andai pada tahun 2014. Kita tunjukan eksistensi pada kinerja kita hari ini," kata Puan.

(eh)



Sunday, May 26, 2013

Sebut Jokowi Tak Pantas, Ucapan Ruhut Cuma "Psywar"

[caption id="" align="alignleft" width="378"]Sebut Jokowi Tak Pantas, Ucapan Ruhut Cuma "Psywar" Sebut Jokowi Tak Pantas, Ucapan Ruhut Cuma "Psywar"[/caption]

Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute, Gun Gun Heryanto menilai pernyataan politisi Partai Demokrat Ruhut Sitompul tentang nilai jual Joko Widodo sebagai calon Presiden (capres) tidak sesuai dengan fakta politik yang ada.

Menurutnya, Gubernur DKI Jakarta itu tetap mampu bersaing dengan kandidat capres lainnya.

"Komentar seperti itu sudah biasa dilakukan oleh Ruhut. Saya kira publik tidak kaget, dan saya kira Jokowi tetap memiliki nilai jual lebih dibanding kandidat (capres) yang ada saat ini. Ucapan Ruhut cuma sekadar psywar," kata Gun Gun saat dihubungi pada Minggu (19/5/2013).

Untuk diketahui, Ruhut Sitompul menilai sosok Joko Widodo tak pantas menjadi capres. Alasannya, selain dianggap hanya sebagai tukang mebel, Ruhut juga menganggap Jokowi gagal membenahi Jakarta. Ruhut menuding mantan Wali Kota Surakarta itu hanya sibuk melakukan pencitraan di media massa.

Menurut Gun Gun, pendapat Ruhut itu keliru. Salah satu indikator ilmiahnya adalah sejumlah hasil survei yang memosisikan Jokowi sebagai kandidat capres paling favorit. Bahkan melebihi tokoh-tokoh nasional seperti Prabowo Subianto dan Megawati Soekarnoputri.

Baginya, saat ini Jokowi merupakan magnet politik nasional. Baik dari faktor kesukaan, tingkat kesukaan, penerimaan, popularitas, dan keterpilihan dia sebagai seorang pemimpin. Jokowi dianggap Gun Gun sukses menjadi pemimpin berbeda dengan segala kebersahajaannya.

"Wajar kalau akan banyak partai yang menarik Jokowi untuk maju ke gelanggang pencapresan 2014. Tapi sebaiknya Jokowi fokus dulu mengelola Jakarta karena ekspektasi publik sangat tinggi. Jakarta akan jadi barometer kepemimpinan Jokowi, sekaligus menjadi semacam ujian apakah dia konsisten," ujarnya.

Saturday, April 27, 2013

Survei Capres LKP: Jokowi Tak Dihitung, Prabowo No 1

[caption id="" align="alignleft" width="231"]Jokowi Jokowi - Prabowo[/caption]

Jakarta - Lembaga survei yang menamakan dirinya Lembaga Klimatologi Politik (LKP) melakukan survei elektabilitas capres. Nama Prabowo memucaki 'klasemen' capres, namun Joko Widodo (Jokowi) tak dihitung.

Survei ini dilakukan tanggal 20-30 Maret 2013 di 33 provinsi dengan mengambil sampel 1.225 orang responden melalui teknik multi stage random sampling. Dengan margin of error sekitar 2,8% dan level of convidence 95%.

Teknik pengumpulan data wawancara tatap muka dengan dengan responden dibantu kuesioner. Survei hanya membatasi pada tokoh-tokoh nasional yang berada dalam struktur partai. Survei tidak melibatkan tokoh-tokoh alternatif sebagai kandidat capres.

Karena inilah nama Gubernur DKI Jakarta Jokowi yang fenomenal dan muncul sebagai capres paling potensial di berbagai survei tak ada.

"Secara realitas politik, peluang tokoh alternatif untuk muncul menjadi capres pada Pilpres 2014 sangat kecil dan cenderung hanya menjadi wacana," terang Usman Rachman, CEO Lembaga Klimatologi Politik, dalam paparan survei di Ruang Singgasana Hall E lantai 2 Hotel Grand Kemang, Jl Matraman Raya, Jakarta, Minggu (28/4/2013).

Berikut elektabilitas tokoh parpol jika Pilpres digelar hari ini:

1. Prabowo Subianto: 19,8 persen
2. Wiranto: 15,4 persen
3. Megawati Soekarnoputri: 13,3 persen
4. Ani Yudhoyono: 4,8 persen
5. Hatta Rajasa: 3,9 persen
6. Surya Paloh: 3,8 persen
7. Sutiyoso: 2,7 persen
8. Yusril Ihza Mahendra: 2,5 persen
9. Muhaimin Iskandar: 1,8 persen
10. Anis Matta: 1,3 persen
11. Suryadharma Ali: 1,1 persen
Tokoh lain: 3,8 persen
Tidak tahu: 11,4 persen